Kamis, 26 Januari 2017

Jago Silat dan Karate

 ENIK Eka May Setyawati bukan perempuan biasa. Delain meraih berbagai prestasi di bidang olahraga, perempuan kelahiran 23 Mei 1986 itu juga ahli bela diri karate. Bahkan, menjadikan silat dan karate sebagai motivasi hidupnya.

 Perempuan yang akrab disapa Enik ini, sekarang sebagai guru olahraga di SDN Mangli 02 Jember. Meskipun sebagai honorer, semangatnya tak pudar untuk menjadikan siswa berprestasi seperti yang pernah diraihnya.


 Saat masih di bangku sekolah dasar (SD), dirinya mewakili kecamatan mengikuti lomba lari 100 meter tingkat kabupaten pada tahun 1997 dan 1998. Dua tahun berturut-turut, dia mampu meraih juara tiga.

 Waktu menjadi siswi SMP, dari lintasan atletik ini dia meraih runner up tahun 2000 se-Kecamatan Ambulu. Bahkan, pada tahun yang sama, meraih juara 3 lomba silat Bupati cup. "Semua itu diperoleh karena terus belajar dan latihan," katanya. 

 Enik melanjutkan, saat melanjutkan pendidikan di SMAN Ambulu, dia baru menekuni karate. "Tahun 2002 juga meraih runner up dalam lomba Karate se Kabupaten Jember yang diadakan Pemuda Panca Marga (PPM)," jelasnya.

 Prestasi yang diraih itu semakin membuat percaya diri dan termotivasi untuk mengembangkan bakat. Enik mampu membuktikan, dia meraih prestasi juga satu lomba silat tingkat pelajar. Kemudian dikirim ke tinggat provinsi mewakili Jember di Surabaya. Di sana, sia meraih juara harapan satu tinggat provinsi.

 Seperti tak pernah bosan, saat kelas XII, Enik mengikuti lomba silat yang diselenggarakan oleh Pagar Nusa Jember. Dia mampu menjadi sang juara dan mendapatkan predikat sebagai atlet silat terbak juara satu.

 Di bangku kuiliah, dia terus mengembangkan skill-nya dan selalu meraih prestasi dalam event kejuaraan. Hingga pada 2007 lalu, dinobatkan sebagai salah satu jiri silat di setiap ajang perlombaan di tinggat kabupaten.

 Sekarang, selain fokus mengajar, Enik juga mengembangkan usaha bisnis online. Namun, tetap tidak melupakan olahraga yang telah membesarkan namanya.

 "Setiap orang harus menguasai beladiri untuk menjaga diri sendiri, terutama perempuan," lanjutnya.

 Ilmu bela diri dinilai penting karena perempuan semakin sedikit yang mengembangkan skill beladiri. Padahal diskriminasi terhadap perempuan semakin meningkat. Menguasai ilmu bela diri dibutuhkan bukan untuk menyaingi laki-laki, tapi melindungi diri dari bahaya. (gus/c1/hdi)



Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 3 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar