Rabu, 25 Januari 2017

Operator WAR


MENJADI  anak seorang perwira polisi, Verliyana Esphi Dwike Valensi, ikut-ikutan ingin menjadi polisi. Apalagi dia begitu mengidolakan sang ayahnya sendiri. Karena keinginannya yang tinggi, sejak Februari 2016 lalu dia tepilih jadi anggota polisi.

Sikap kepemimpinan ayahandanya AKP M. Sudariyanto, membuat dia semakin terinspirasi menjadi polisi. Bahkan, polisi wanita berpangkat Brigadis Dua (Bripda) itu memliki ambisi melebihi ayahnya, "Abdi negara yang dituntuk mengayomi masyarakat itu polisi," ujarnya.

Anak kedua Kapolsek Puger itu memilih total menjadi polisi. Tak heran jika Kapolres Jember AKPB Sabulul Alif, memilih dia menjadi salah satu dari delapan petugas operator WAR Centre, sebuah aplikasi pengaduan masyarakat berbasis online. Sala satu produknya sering disebut Kentongan online.

Menjadi Operator We Are Ready (WAR) Polres Jember, memiliki banyak pengalaman yang dia terima, Salah satunya tentang karakter masyarakat Jember yang ternyata suka iseng.

Bahkan menurutnya, dari 90 orang yang melapor soal keamanan dan ketertiban masyarakat (Kantibmas), ternyata hanya 10 orang yang laporannya benar terjadi. 

"Selebihnya hanya iseng," akunya. Hal tersebut dia temukan saat tutup buku WAR pada bulan Juli hingga Agustus 2016.

Aplikasi WAR yang digagas Kapolres AKBP Sabilul Alif, diakunya mampu mendekatkan jarak antara masyarakat dan polisi. Sebab masyarakat interaktif antara mereka. Semisal masyarakat melapor kejadian di aplikasi WAR, dia bertugas yangmelakukan follow up dengan menelepon balik pemberi informasi. "Di sana membuat kami terbantu," pungkasnya.

Bukan hanyaitu, kecanggihan teknologi seperti WAR ternyata mampu menekan angka kriminalitas di wilayah hukumnya. Sebab warga bisa mudah mengetahui cara menggagalkan kejahatan. Sedangkan penjahat harus berhitung berulang kali melakukan tindakan kejahatannya. (rul/hdi)




Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 1 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar