SEBAGAI seorang crew leader di salah satuy gerai kopi ternama di Jember, Bety Dian Agustin harus mengetahui benar apa saja jenis-jenis kopi serta proses penyajian kopi dengan kualitas bagus kepada pelanggan.
Meskipun terbilang asing, namun rupanya ini bukanlah hal yang sulit baginya.
Gadis kelahiran 2 Agustus 1988 ini sudah bergabung menjadi barista semanjak tahun 2015. Dari pengalamannya sekama training, banyk sekali ilmu yang dia peroleh terutama mengenai jenis-jenis kopi.
Bagi bety, awalnya dia hanya mengenal kopi yang sudah dikemas dalam bentuk sachet dan banyak dijual di pasaran. Namun jika diteliti lebih jauh, takaran kopi dalam kemasan sudah dicampur dengan berbagai bahan lain seperti gula dan susu. "Sehingga rasanya sudah berubah dari rasa kopi yang sebenarnya," ujarnya.
Dalam hal rasa, gadis berambut sebahu ini hanya mengenal rasa pahit dalam sajian kopi. Setelah dia bergabung menjadi barista hingga crew leader, Bety menemukan ilmu baru. "Ternyata ada kopi yang beraroma cokelat, ada yang memiliki cita rasa asam, dan rasa-rasa lain yang sulit ditemukan pada kopi dalam kemasan sachet," lanjutnya.
Di tempat kerjanya, alumnus Universitas Brawijaya Malang ini diwajibkan untuk melakukan pengecekan terhadap mesin agar kualitas kopi yang diciptakan dari mesin tersebut tetap terjaga. Dengan alat bernama refrictometer, biasanya Bety mencecap kopi setiap pagi. "Tidak banyak, mungkin sekitar satu sendok untuk masing-masing jenis kopi," imbuhnya.
Ini menjadi kebiasaan baru, karena sebelumnya dirinya tidak terlalu sering menikmati kopi. Keluarganya pun hanya sesekali saja minum kopi. "Apalagi yang kemasan, karena saya sudah terlalu terbiasa dengan kopi murni jadi kalu mencicipi kopi kemasan rasanya jadi beda," selorohnya.
Untuk menghasilkan kopi yang sempurna, kata dia, ada beberapa hal yang mempengaruhinya. Di antaranya suhu, volume air, dan massa kopi. "Biasanya kalu orang luar negara lebih suka ngopi tanpa gula, sementara orang Indonesia banyak minum kopi menggunakan gula. Penggunaan gula sebenarnya juga mempengaruhi kemurnian dan rasa kopi," terangnya. Anak kedua dari tiga bersaudara inin juga lebih memilih esensi rasa pahit, dibandingkan dengan kopi yang terlalu manis.Favoritnya adalah kopi robusta. "Kalau di Jember sepertinya banyak yang suka kopi Kalosi Toraja," kata Bety. (lin/c1/hdi)
Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 20 Sepetember 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar