BERPARTAI, tidak semua untuk mencari pekerjaan. Sebab partai politik menurut Ony Kumala, tak lain media perjuangan untuk membangun bangsa. Karena hakikatnya sebuah partai politik, lahir untuk berpartisipasi mensejahteraan seluruh warga negara.
Gadis berusia 21 tahun itu sudah tiga tahun ikut menjadi fungsionaris partai di desanya Gambirono, Bangsalsari. Dia ikut berpartai setelah lulus SMK. "Saya diajak ayah," akunya.
Sebelumnya, dia tidak begitu bergairah ikut partai politik. Sebab di luaran sana, banyak persepsi negatif bahwa partai politik tak lain untuk mencari nafkah. Selain itu, politik juga dinilai buruk di mata masyarakat. "Setelah saya pelejari dan berproses, tenyata berpartai tidak buruk seperti yang dinilai orang," ujarnya.
Supaya mampu memperkokoh idealismenya, Ony memilih bekerja menjadi seorang penjahit. Sebab yang dia pahami, ketika kemandirian ekonomi sudah didapatnya, godaan materi selama berpartai tidak akan berani merayunya.
Selain itu, menjadi penjahit diakuinya lebih memliki keleluasaan waktu untuk berproses di partai. Apalagi, agenda partai biasanya dijadwal sama dengan jam kerja produktif. "Kalau menjahit kan bisa ditinggal ssewaktu-waktu," jelasnya.
Terlanjur gemar berpartai politik, tidak membuatnya tergiur menjadi calon legislatif (caleg). Meski pun nantinya, kesempatan itu mengarah padanya. "Saya berpartai tidak pernah terambisi menjadi pejabat. Karena saya yakin, berjuang di rakyat bawah hasilnya lebih terasa,"Saya berpartai tidak pernah beranbisi menjadi pejabat. Karena saya yakin, berjuang di rakyat bawah hasilnya lebih terasa," katanya.
Meski demikian, bukan berarti dia alergi kepada kekuasaan. Bahkan yang seharusnya dilakukan partai politik, harus mampu berkomunikasi baik dengan penguasa. Sebab jika ada kedekatan emosional yang melekar, meraih perjuangan bakal lebih mudah dengan pendekatan.
"Tapi jika ada yang salah,kadar partai juga harus berani menyampaikan kritik," sarannya. Namun tentu, kritik tidak hanya sekedar kritik. Melainkan kritik membangun dengan menawarkan sejumlah solusi konkrit. (rul/hdi)
Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 16 September 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar