Rabu, 22 Februari 2017

Semangat di Lapas


TAK ada yang menyeramkan di dalam lembaga permasyarakatan (lapas). Sering berkunjung ke lapas, semakin banyak memiliki bahan introspeksi diri. Bahkan Gustri Pandu Marcahyana, menilai lapas sebagai rumah keduanya.

Petugas Lapas Kelas II A Jember itu dikenal banyak dekat dengan para penghuni lapas. Terlebih, dia memiliki tugas membimbing kerja para narapidana di Jember. Salah satunya membentuk mental kemandirian dengan karya keterampilan tangan.

Perempuan kelahiran 3 Agustus 1989, itu mengaku sempat waswas saat awal bertugas di dalam lapas. Apalagi yang harus dia tangani bukan hanya narapidana wanita. Melainkan narapidana anak dan laki-laki. "Menghadapi narapidana laki-laki sempat membuat saya syok. Tapi setelah dijalani, mereka tak seseram yang saya bayangkan," akunya.

Bahkan yang membuatnya semangat, keinginan berubah para narapidana yang dia tangani begitu besar. Kedisiplinannya juga tinggi. Sekali diminta mengerjakan karya keterampilannya, narapidana binaannya langsung bekerja. Hasilnya pun memuaskan.

Kualitas hasil karya penghuni Lapas Jember, bahkan sempat menerima penghargaan terbaik dari Kemenkum HAM. Produknya pun beragam. Mulai dari bahan daur ulang hingga pembuatan rombong bakso, tercipta dari dalam lapas. "Kami hanya mendampingi dan memberinya motivasi," akunya.

Gusti memiliki keyakinan, latar belakang kejahatan yang pernah dilakukan penghuni lapas, tidak kemudian hatinya kaku dan tertutup. Namun memang, butuh pendekatan dengan hati yang tulus padanya. Sehingga, sikap saling percaya terjalin antara dia dan penghuni lapas. "Kalau sudah ada kemistri, kita bisa bekerja dengan kompak," katanya bangga.

Dia pun optimistis, warga binaan di Lapas Jember bisa berubah baik setelah keluar dari masa hukumannya. Sebab selama di dalam lapas, petugas diakuinya begitu komplit memberi kegiatan pemberdayaan. (rul/c1/hdi)



Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 18 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar