Selasa, 21 Februari 2017
Mayoret Utama
TAK pernah terbayang dalam benak Isabel Elgina bahwa dirinya akan didapuk sebagai salah satu 'pemimpin' dari 85 personel marching band di sekolahnya. Tugas tersebut tentu cukup berat, mengingat sebelumnya ini dirinya belum pernah mempelajari dasar-dasar menjadi seorang mayoret.
Apalagi, tak ada satu pun anggota keluarganya yang mendalami dunia marching band. Praktis Isabel lebh banyak mempelajari dasar pengetahuan serta teknik marching band di sekolahnya. "Yang banyak ngajarin ya senior, pembina, dan pelatih di sekolah," ujar siswi kelas IX SMPN 1 Jember tersebut.
Awalnya bungsu dari dua bersaudara ini bergabung sebagai personel marching band ketika baru masuk. Oleh pelatih, dirinya dipercaya sebagai pemegang cymbal. Stelah beberapa bulan, dirinya dipindah untuk menjadi anggota color guard sebelum akhirnya dipilih sebagai mayort kedua ketika naik ke kelas VIII.
Bagi Isabel, pengalaman baru itu cukup menantang. Selama beberapa bulan dirinya berlatih keras agar terbiasa memegang tongkat mayoret yang cukup panjang. Namun putri pasangan Jenny Sampe dan Januar Setiabudi tersebut mengaku sudah terbiasa. "Latihannya tidak berbeda jauh dengan waktu masih jadi color guard. Selain itu, di rumah juga sering latihan melempar tongkat mayoret," lanjutnya.
Kini, Isabel didapuk menjadi mayoret utama yang harus memimpin 85 personel Gita Irama Spasa. Ada berbagai pengalaman yang dia rasakan, terutama saat tampil dalam perlombaan. "Kadang ada rasa takut dan nervous karena khawatir salah," akunya.
Sebagai seorang mayoret, gadis berambut ikal ini dituntut untuk memiliki daya konsentrasi tinggi. Tidak hanya itu, dia juga harus bisa mengatur pola serta tompo penampilan marching band yang dia mimpin. "Terus juga harus bisa memimpin. Jadi mayoret juga sekaligus mendapatkan kemampuan leadership," tegasnya.
Sayangnya, kata Isabel, belum ada sekolah menengah atas yang memiliki tim marching band sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Sempat terbesit dalam pikirannya untuk melanjutkan sekolah di luar kota, namun keinginan tersebut masih didiskusikan dengan keluarganya. "Lihat persetujuan orang tua dulu," punkas gadis kelahiran 17 Desember 2001 tersebut. (lin/c1/hdi)
Sumber : Jawa Pos Radar Jember, 16 Agustus 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar