Jumat, 24 Februari 2017

Passion Ngajar Bahasa Inggris


ILMU yang tidak diterapkan, hasilnya hanya akan menjadi sia-sia. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Nila Andrianti semenjak kuliah hingga saat ini. Dengan prinsip tersebut, dirinya kini mengajar bahasa Inggris di salah satu lembaga bimbingan belajar bahasa Inggris di Jember.


Passion Nila sebagai pengajar sebenarnya tidak disengaja. Berawal semenjak sang ayah meninggal, gadis berhijab ini bertekad untuk membiayai kuliahnya sendiri.

"Sejak masih kuliah. Saya sudah megajar di beberapa bimbel, juga privat di beberapa tempat," kenangnya.

Jika banyak orang menggapan bahwa bekerja sembari kuliah tidak bisa menyelesaikan studinya tepat waktu, gadis kelahiran 3 Agustus 1988 ini mematahkan anggapan tersebut. Terbukti, Nila berhasil lulus tepat waktu, bahkan meraih predikat wisudawan Universitas Jember terbaik pada tahun 2011 lalu.

Setelah lulus kuliah, bungsu dari tiga bersaudara ini sempat mencoba beberapa jenis pekerjaan lain. Namun karena pengilan hati, Nila memilih untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan ilmu kuliahnya. "Sudah terlanjur nyemplung, kemampuan bahasa Inggris ini harus dimanfaatkan dan disebarkan," ujar Nila.

Sebab, kata dia, ilmu yang diperoleh tidak diaplikasikan, lambat laun ilmu tersebut bisa hilang tergusur waktu. Karena itulah Nila memilih menjadi tutor bahasa Inggris sebagai mata pencariannya saat ini. "Meskipun bukan dari background guru, tapi mengajar tetap jadi passion saya," tegasnya.

Ada perbedaan yang mencolok antara pengajar yang hanya sekedar bekerja, dan pengajar yang ingin mengajar anak-anak. Di pandangannya, mengajar haruslah memperhatikan kondisi satu per satu siswa di hadapannya. "Kalau bekerja hanya sekedar ngasih materi, paham atau tidak ya terserah. Pengajar tidak bisa seperti itu," katanya.

Bagi alumnus fakultas Sastra Inggris Universitas Jember ini, mengajar bukan hanya menjadi pekerjaan, tetapi sekaligus sarana untuk menyalurkan ilmu kepada generasi penerus. Sebagai seorang pengajar, dirinya harus mencari cara agar siswa tidak merasa sulit belajar bahasa Inggris. " Jangan mengajar sesuai tex book, tetapi cari cara agar anak mau berinteraksi satu sama lain dan mengaplikasikan pelajarannya," pungkasnya. (lin/c1/hdi)



Sumber    :Jawa Pos Radar Jember, 23 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar